STIGMA UNTUK KASUS HIV AIDS TERUS BERLANJUT

Posted: April 14, 2011 in Kesehatan

Mensikapi kondsisi stigma atau hukuman sosial terhadap  orang yang terinfeksi virus  HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau seseorang yang telah masuk dalam tahap AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)  bersama dua teman lain, yakni anggota “http://menalaonline.wordpress“. Nopiandi Ilham (PNS di Dinas Kesehatan). M Fikri (Humas Sekertariat Daerah). Saya  membicarakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini

"menalaonline"

  • Pembicaraan berawal dari satu pesan singkat masuk di ponsel saya. Pesan tersebut dikirimkan Arie Afianthara anggota yang juga anggota komunitas “menaonline”  (petugas lab. puskesmas) isinya  “sudah baca koran hari ini, di rubrik ini dan ini ada berita tentang HIV/AIDS”.  Di seberang telpon, dia mengaku  baru saja membaca salah satu harian terkemua di Nusa Tenggara Barat.
  • Saya pun langsung mengerti, karena sebelum pesan singkat itu saya terima, berita yang sama saya baca di salah satu situs berita. Sejurus, Saya membalas “beritanya dikemas tidak bagus, masih sebut nama/lingkungan, bahkan gejala dll. Sudah saya komen,”.
    Sebagai mantan peserta kegiatan Orientasi Wartawan tentang Kependudukan dan Pembangunan yang digelar Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, 2008 silam. Balasan pesan tersebut sekaligus ekspresi kekecewaan yang saya dapatkan dari berita tersebut. Wartawan dalam mengungkap kasus HIV/AIDS cenderung ceroboh. Menyebutkan nama lengkap, inisial, dan tempat tinggal. Bahkan terkesan memvonis sejumlah waria tersebut mengidap HIV/AIDS lengkap dengan gejala-gejalanya.
    Tidak cukup itu, wartawan mencoba meminta keterangan melaui perawat yang jelas-jelas tidak memiliki wewenang memberikan keterangan pasien sakit A atau B. Kewenangan mutlak ada di tangan dokter. Wartawan cenderung cepat puas! Ditambah dengan mendeskripsikan atau menceritakan  sendiri penyakit pasien melalui papan pengumuman milik rumah sakit.
    Kesan kuat yang tertangkap dari pembicaraan mengenai penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini adalah ketika seorang wartawan menyebutkan kata diduga terinfeksi HIV. Secara tidak langsung, pernyataan itu  telah menjustifikasi (pemahaman baru) seseorang terinfeksi HIV. Sementara kita ketahui, HIV/AIDS hanya bisa dketahui melalui pemeriksaan medis.

    Deskripsi yang boleh dikeluarkan wartawan adalah, apabila seseorang tersebut dinyatakan dokter atau pihak RSU positif terinfeksi HIV, mungkin juga  sudah memasuki tahap AIDS. Dalam jargonnya kondisi tersebut dikatakan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).  Lazimnya, wartawan bisa mengatakan ini merupakan temuan kasus baru HIV/AIDS di daerah. Dialami inisial ini, usia, profesi, dan diperkirakan terinfeksi sejak, atau melalui apa. Sebuah tulisan yang menggugah tentunya?

    Sebuah cerita lucu  pun saya ingatkan, ketika  Samsul W Harahap, Direktur LSM Infokespro Jakarta, dalam kegiatan Meningkatkan Peranan Media Massa dalam Upaya Sosialisasi/Mobilisasi Sosial untuk pelayanan VCT. Saya pun hadir sebagai peserta. Ia mengatakan, ada dua orang anggota DPRD (maaf) pagi hari berada di sebuah tempat pelacuran, (sebut saja Dodol, Kota A Kabupaten B). Dua anggota ini mendatangi Dodol setelah membaca koran hari itu. Seorang wartawan menulis, tiga orang Pekerja Seks Komersial ( PSK) terinfeksi HIV di Dodol. Dan anggota DPRD pun mengaku, ingin mengetahui langsung siapa yang terinfeksi tersebut. Nampaknya, mereka lupa, jika HIV/AIDS hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan medis. Mari kita pertanyakan antara wartawan dengan anggota DPRD. Siapa yang salah?

    Patutnya, keterangan diperoleh melalui dokter setelah memeriksa kesehatan pasien. Dengan mengambil contoh darah pasien lalu memeriksanya di laboratorium. Dengan begitu,  virus HIV sudah dapat diketahui.

    Hasil ini juga bisa menjadi konsumsi publik, namun, tetap mempergunakan inisial, dan tidak menyebutkan tempat tinggal. Sehingga, wartawan tidak perlu mengatakan diduga. Karena pernyataan itu dapat merugikan seseorang. Dugaan HIV/AIDS akan berakibat kepada stigma.

    Anggapan masyarakat terhadap HIV/AIDS masih asing. Seseorang dapat dikucilkan, dan mendapat perlakuan tidak manusiawi. Terlebih HIV dianggap tidak ada obatnya, dan tidak dapat disembuhkan.

    Banyak hukum sosial untuk menyebutkan kasus ini, seperti di Papua orang biasa menyebut ODHA dengan penyakit “salah jalan”, atau penyakit “itu sudah”. Di tengah berbagai persoalan kemasyarakatan yang tidk bisa diselesaikan, pernyataan-pernyataan tokoh di ruang politik, disadari atau tidak, memperlihatkan kebencian, dan prasangka. AIDS disingkat Akibat Anunya Dipakai Sembarang.

    Akibat dari pernyataan itu sendiri kita ingat, penyanyi rock  Melanie Subono mengkritik pernyataan salah seorang menteri Kabinet Indonesia Bersatu melalui Twiter, dan  membuat geger dunia maya. Melanie menyatakan, tudingan menteri itu bahwa pengidap HIV/AIDS identik dengan seks bebas adalah salah. Melanie melihat para pengidap AIDS seperti penerbar maut. Mereka di tempatkan di ruang tahanan tersendiri. Para petugas memandikan mereka dengan menyemprotkan air selang dari kejauhan.

    Melihat itu, sudah sepantasnya kalangan jurnalis tidak ikut memberikan stigma. Partisipasi melalui media begitu diperlukan dalam memutus mata rantai penularan HIV/AIDS.  Virus yang mempengaruhi derajat generasi bangsa, kelumpuhan ekonomi, hingga kematian.

    Selain HIV terdapat penyakit lain yang dengan cepat merenggut nyawa. Seperti ebola, malaria, demam berdarah, penyakit yang dibawa oleh binatang tikus,  serta hepatitis. Penyakit tersebut harus mendapat penanganan medis. Ada diskriminasi untuk HIV.

    Lantas mengapa kita masih berkata, HIV/AIDS adalah penyakit mematikan. Dimana perbedaan HIV/AIDS dengan penyakit diatas?Yaitu sama-sama mematikan. Secara tidak sadar kita telah menggolongkan HIV/AIDS sebagai puncak penyakit dunia.

    Virus HIV dapat menular melalui hubungan sex tanpa kondom bisa terinfeksi HIV,  transfusi darah, serta  narkotika degan jarum suntik. Orang yang pernah melakukan semua itu termasuk dalam golongan berperilaku beresiko tinggi terinfeksi. Peroslannya, HIV bisa menular melalui air mani, cairan vagina, dan daarah. Salah satunya juga melalui Air Susu IBu.

    Untuk itu, pemerintah telah membangun  klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing). Sebuah klinik gratis. Seseorang  yang terinfeksi HIVakan  mendapat obat ARV (ANTI RETRO VIRAL). Untuk membantu pertumbuhan sel CD4. Sel ini merupakan sel kekebalan tubuh manusia dari serangan penyakit. Dalam situs http://www.ilunifk83.com/t71p30-hiv-aids disebutkan, obat ini bekerja dengan cara menghambat proses pembuatan virus dalam sel CD4, hingga jumlah CD4 pun dapat ditingkatkan.

    Degan begitu, sepantasnya kita tidak menyebutkan HIV/AIDS tidak ada obatnya. Ada, contohnya ARV di atas.

    HIV Tidak menluar melaui bersentuhan tangan, air liur, atau keringat. Data membuktikan, seseorang bisa terinfeksi, apabila  terpajan dengan pisau cukur yang sering dipergunakan orang  terinfeksi HIV. Namun merupakan resiko kecil terinfeksi.

    Untuk memberikan pemahaman luas kepada masyrakata, praktek-praktek jurnalisme empati menjadi modal utama para jurnalis. Sejatinya, lebih menitikberatkan kepada manusia. “Kompas” pernah berkata “Wartawan itu mengangkat yang papa.” Di luar itu,  Jurnalisme Empati telah dipraktekan lama oleh media-media barat. Dalam hal ini, kasus HIV/AIDS sangat erat dengan peraktek tersebut.

    Untuk itu, bijak sekali jika wartawan tidak menyebutkan nama, kampung, atau yang memudahkan seseorang menemukan Orang Dengan HIV AIDS. Sudah barang tentu, mereka akan mendapat judge (vonis) dari warga sekitar, dikucilkan, direlakan mati atau lainnya.

    Bagaimana kalau ini terjadi dengan keluarga kita (parwa jurnalis)? :wartawan harus berada di luar pagar dalam menulis kasus HIV/AIDS” tegas Inne Silviane, Direktur Pelaksana Pusat PKBI di tengah Orientasi Wrtawan Tentang Kependudukan dan Pembangunan, di Bandung, 5 Desember 2008. Orientasi ini diikuti oleh puluhan wartawan se-Indonesia, termasuk penulis Agus Santhosa,  anggota komunitas http://menalaonline.wordpress.

    Keterangan foto: Dua anggota komunitas http://menalaonline.wordpress.

    Foto: M Fikri.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s